・B・R・E・N・D・A・

...Here you'll find all sides of Brenda...

Sebuah fakta cerita kehidupan yang penuh perjuangan, inilah otobiografi singkat dari seorang anak yang bernama BRENDA BUDIONO yang tidak lain dan tak salah lagi adalah pemilik dari blog yang penuh dengan cerita hina yang menjadi nilai jual dari blog ini..wkwk.. Nih nulisnya pake hati lhoo.. jadi bacanya pelan-pelan yaaa.. jarang-jarang gw bisa nulis kayak gini... wakakaka.. cekidot yooo~

+========+
Saya adalah seorang anak perempuan dari seorang laki-laki tampan bernama Budiono Winarto, dan seorang wanita cantik bernama Dharmawati Rukmanawana. Terlahir sebagai anak tunggal semata wayang, berpostur tubuh gempal dan terlihat sangat sehat, berkacamata, kulit putih, mata sipit dan berkaraker ramah dan mudah bergaul. Saat ini saya sedang menempuh kuliah di 2 universitas yang berbeda, kedua kuliah saya itu bidang ilmu nya sangat bertolak belakang dan juga lokasi universitas yang begitu jauh satu sama lain. Hari-hari saya begitu berwarna – warni dan begitu dinamis. Sekilas ini merupakan pengenalan awal dari otobiografi saya, kemudian akan saya lanjutkan dengan mengenang masa kecil dulu.

Ketika saya dilahirkan, proses kelahiran saya tergolong rumit dan tidak semudah apa yang dialami ibu dan anak lain. Saya mendapatkan cobaan besar dalam hari pertama saya hidup di dunia ini. Terlahir sebagai anak premature 6 bulan dengan berat badan tidak lebih dari 1 kilogram seperempat ons. Sungguh mukjizat Tuhan saya dapat bertahan hidup. Mengapa bisa 6 bulan lahirnya ? Hal itu karena pada saat menginjak umur kandungan yang ke 6 bulan lebih beberapa hari, mama saya disaat ingin pulang ke rumah setelah selesai bekerja, tanpa diduga sebelumnya, ia terkena serangan copet, copet tersebut mengambil seluruh tas mama, dan secara reflek, mama saya pun mengejar copet tersebut sebisa mungkin sambil berteriak minta tolong. Kejadian itu terjadi tepat di depan pintu pagar rumah orangtua mama yang tidak lain adalah rumah opa saya sendiri. Dan tak disangka – sangka, mama pun tersandung, dan akhirnya terjatuh. Saat terjatuh itulah ketubannya pecah, dan perlu segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Namun berhubung hanya ada sebuah rumah sakit kecil di dekat sana, akhirnya mama pun dilarikan ke rumah sakit itu. Selanjutnya yang terjadi adalah, rumah sakit itu ternyata tidak menyediakan dokter yang sanggup menangani kasus pendarahan pada kehamilan seperti ini.

Akhirnya dengan cukup menegangkan, mama pun berhasil dibawa ke rumah sakit lain yang jaraknya lumayan jauh. Yakni di rumah sakit ibu dan anak Harapan Kita, di kawasan Gatot Subroto. Bukan main perjuangan seorang ibu untuk anaknya. Sesampainya disana, segera di tangani dokter terkait. Kondisi mama saat itu memang tidak begitu baik. Tapi mau tidak mau mama pun harus segera melahirkan. Si bayi harus segera di keluarkan dari perut, jika tidak maka akan membahayakan nyawa ibunya. Dan menurut dokter, kondisi si bayi sudah cukup buruk, dan kemungkinan hidupnya akan sangat kecil. Setelah beberapa saat, akhirnya saya pun terlahir hidup, dengan kondisi sangat kritis. Berat tubuh hanya 1 kilogram, lebih seperempat ons, kulit keriput dengan warna merah muda. Bahkan jika dibandingkan dengan botol aqua yang 1 liter, maka saya dengan botol itu akan lebih besar botol. Jempol kaki saya sangat kecil, tubuh saya begitu rentan hingga orangtua saya pun tidak berani menggendong. Lalu, apa yang sang dokter katakan pada kedua orangtua saya, ia mengatakan bahwa sebaiknya orangtua saya memiliki anak lagi tahun depan, yang anak pertamanya ini tak usah lagi diharapkan, karena kemungkinan nya untuk hidup itu kecil sekali. Untuk pertumbuhan otaknya pun, pada umumnya anak premature hanya memiliki 2 kemungkinan, pertama, ia akan tumbuh dengan kemampuan berpikir jauh diatas rata-rata (jenius), dan yang pertama, ia akan tumbuh sebagai anak down syndrome.

Namun, semua yang dokter katakan itu, tak pernah didengar oleh kedua orangtua saya, mereka tetap optimis sepenuhnya bahwa anak perempuan nya ini akan bertahan hidup dan bisa tumbuh jadi anak yang sehat dan cerdas. Memang secara keseluruhan, puji Tuhan, saya tidak memiliki kelainan atau cacat fisik. Jadi, kedua orangtua saya selalu optimis saya akan bertahan hidup. Hari demi hari saya lalui dalam sebuah incubator (sebuah kotak kaca penuh dengan sinar dan hangat khusus untuk merawat bayi prematur). Saya pun berada di dalam incubator selama 2 bulan, di ruangan itu terdapat juga 2 bayi prematur lain yang mengalami nasib yang sama dengan saya, terlahir dengan bobot yang dibawah normal. Kalau tidak salah ingat, mereka bernama Tiara dan Greta. Sejak saya lahir hingga 2 bulan kemudian, saya sangat jarang merasakan gendongan orangtua, bahkan untuk menyusu saja, harus melalui selang infus yang terletak sekujur tubuh. Dan akhirnya hari demi hari yang telah berlalu menjadikan tubuh saya sudah cukup kuat dan sehat untuk dibawa pulang ke rumah. Sungguh mukjizat Tuhan, dari vonis seorang dokter bahwa saya tidak akan bisa hidup, hingga pada akhirnya bocah kecil itu sekarang sudah bertumbuh besar hingga seperti saat ini, bahkan terlihat jauh lebih ‘sehat’ dibanding anak lain yang seumurnya. Masa sewaktu bayi ialah masa-masa paling membahagiakan, kita tak perlu memikirkan urusan orang dewasa, tugas kita adalah hanya makan, tidur, dan bermain. Tidak perlu memikirkan tugas dan pekerjaan yang menumpuk menunggu diselesaikan. Semua orang tersenyum dan tertawa melihat tingkah laku kita, apapun yang kita lakukan. Berlanjut kisah saya ini dengan beragam peristiwa unik. Menginjak usia satu tahun, saya tergolong anak yang aktif, sudah lancar berjalan tanpa merangkak lagi, sudah mulai lancar berbicara. Cukup banya kosakata yang saya bisa ucapkan waktu itu. Di usia balita saya memang sering sakit, namun itu tak mempengaruhi tingkat intelejensi saya. Di usia Taman Kanak-Kanak pun terbukti bisa saya lalui dengan mudah.

Berarti apa yang dikatakan dokter bahwa kemungkinan anak premature akan lahir dengan cacat otak (down syndrome) itu tidak terjadi pada saya. Saya bersekolah di Taman Kanak – Kanak Strada Dewi Sartika Tangerang. Setelah berkali – kali berputar sekeliling kota untuk mencarikan sekolah untuk saya dan lebih sering ditolak karena umurnya belum mencukupi, akhirnya satu sekolah ini pun mau menerima saya. Itupun karena kuota penerimaan siswa baru yang masih jauh dari kata cukup. Banyak sekolah yang tidak mau menerima saya, karena walaupun secara tahun umur saya sudah cukup, namun karena saya terlahir di bulan November maka mereka pun menganggap umur saya masih kurang, untuk masuk TK. Masa sekolah pun dimulai, pagi ketika berangkat, saya selalu diantar oleh mama, karena searah dengan arah ke kantornya. Tapi mama tidak pernah menunggu saya, ataupun mengantar saya hingga ke kelas, semuanya mama suruh untuk saya lakukan sendiri, itulah bedanya saya dengan anak lain, yang saat itu, para orangtua selalu setia menemani anaknya dari awal hingga akhir belajar di kelas, dan selalu mengintip dari jendela. Memang sejak kecil, orangtua saya selalu mendidik bahwa tidak ada yang tidak bisa dilakukan, coba lakukan itu sendiri selama masih kuat. Karena ajaran itulah saya sekarang saya merasa beruntung. Kembali ke cerita saat TK, setelah pelajaran usai, lalu kamipun pulang. Dan yang bertugas untuk menjemput saya ialah terkadang opa saya, terkadang mbak pembantu. Karena kedua orangtua saya bekerja dan pulangnya malam, maka setelah pulang sekolah, saya selalu pulang ke rumah opa saya. Sebelum pulang, selalu jajan dulu, dan jajanan favorit saya adalah ubi goreng dan coca cola. Dan rutinitas pulang sekolah + jajan + pulang ke rumah opa + main + tidur siang selalu saya lakukan tiap hari. Semuanya saya lakukan bersama opa, dan semakin hari saya semakin akrab dengan opa saya. Bahkan bila dihitung-hitung setiap harinya saya jauh lebih sering menghabiskan waktu dengan opa dan oma saya dibandingkan dengan kedua orangtua saya. Setelah mama pulang dari kantor, barulah sayadijemput untuk pulang ke rumah.

Setelah masa TK dilalui, kini menginjak usia sekolah dasar, sungguh senang rasanya memakai seragam putih merah. Saya bersekolah di SD Strada Santa Maria Tangerang. Yang selalu saya ingat di masa sekolah dasar adalah saya sangat berambisi untuk jadi ketua kelas. Ibu wali kelas saya bernama Ibu Kitin. Karena terlalu ingin jadi ketua kelas, saya sampai selama berulang kali memberi hadiah pada ibu Kitin itu. Uniknya, hadiah itu adalah segala macam barang apapun yang terdapat dirumah saya, mulai dari pernak – pernik alat tulis, pensil, isi staples, bingkai foto, memo note, hingga batu baterai. Semuanya saya masukkan ke dalam amplop, lalu saya serahkan pada si Ibu Kitin itu. Tapi hasilnya adalah saya tidak pernah menjadi ketua kelas saat kelas 1 SD itu. Ambisi saya untuk menjadi ketua kelas selalu saja ada. Di tingkat – tingkat selanjutnya, kelas 2, dan kelas 3 jika ada kesempatan untuk menjadi ketua kelas, saya selalu mengajukan diri. Namun ketika memasuki level kelas 4, 5, dan 6, niat saya untuk menjadi ketua kelas sudah mulai berkurang, tidak sebegitu ambisius nya seperti dulu. Karakter saya sejak dulu, adalah mudah bergaul dan suka tantangan, maka setiap jam istirahat saya selalu menghabiskan waktu dengan bermain, bersama teman, dan lebih suka bermain dengan anak laki – laki. Karena kebiasaan itulah, saya sering di cap sebagai anak perempuan yang tomboy (tidak feminin seperti anak lainnya).


TO BE CONTINUED
-BrB-

0 comments:

Post a Comment